Minggu, Januari 06, 2008

LIFE WITH LESS WATER

Mengingat persedian air kita semakin menipis (mungkin lebih tepatnya air bersih, karena siklus dan neraca air selalu menghasilkan volume yang tetap), ada beberapa alternative perlakuan yang bisa kita lakukan untuk lebih berhemat air dengan cara-cara yang simple. “A simply thing can make big difference”.

  1. Buat saja tempat penampungan ari hujan agas air tersebut bisa dipergunakan untuk membersihkan kamar mandi, garasi atau tempat lainnya, asal penampungan ini ditutup rapat dan hanya dibuka saat akan dipergunakan agar mencegah perkembangbiakan nyamuk dan jentiknya,
  2. Gunakan air bekas mencuci akuarium (yangn kaya kandungan fosfat dan nitrogen) untuk menyiram tanaman.. Mungkin untuk tanaman hias masih perlu dikaji lagi ya..
  3. Habiskan makanan sampai bersih, karena masih banyak orang lain di dunia ini yang makan hanya sekali sehari. Ada pepatah bijak yang mengatakan “scratch till corner your lunch box”. Sisa makanan di atas piring berarti akan menambah konsumsi air untuk mencuci piring tersebut. Jadi lebih baik, ambil makan seperlunya saja..
  4. Rudenden atau mubazir jika menggnakan dispenser tetapijuga menggunakan kulkas untuk mendapatkan airm inum, lebih baik salah satunya saja. Mengingat penggunaan mubazir ini juga berarti menyumbang CO2 ke udara,
  5. Pastikan tidak ada air yang menetes dari keran saat ditutup. Tetesan air itu bisa membuang hingga 1667 liter air tiap bulannya,
  6. Siapkan air untuk membilas dalam wadah daripada mencuci dibawah keran yang di buka. Ini jauh lebih hemat,
Jadi mulailah berhemat air dari sekarang...!!!!

KAPITALISME DAN KRISIS EKOLOGI

“…Sesungguhnya, bumi dan seluruh sumberdaya alam di dalamnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup seluruh manusia, tetapi tidak akan pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan segelintir saja…”
Mahatma Gandhi



Dalam “Global Forum on Ecology and Poverty”, Dhaka, 22-24 Juli 1993, Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB (UNEP) menyatakan: “Dunia kita berada di tepi kehancuran lantaran ulah manusia. Di seluruh planet, sumber-sumber alam dijarah kelewat batas.” Setiap menitnya, diperkirakan sekitar 200 ton karbon dioksida dilepas ke atmosfir dan 750 ton top soil musnah. Sementara itu, diperkirakan sekitar 47.000 hektar hutan dibabat, 16.000 hektar tanah digunduli, dan antara 100 hingga 300 spesies mati setiap hari.

Pada saat yang sama, secara absolut jumlah penduduk meningkat 1 milyar orang per dekade. Ini menambah beban bumi yang sudan renta. Inilah yang sepanjang dua dekade terakhir menyentakkan kesadaran orang akan krisis lingkungan. Karena, ini menyangkut soal kelangsungan hidup jagad keseluruhan.

Solusi terhadap krisis lingkungan yang kini melanda seluruh dunia bukanlah melulu soal teknis atau ekonomis. Kiranya perlu dicatat bahwa persepsi seorang individu terhadap alam sering kali mempengaruhi tindakan-tindakannya. Hal ini berarti imaji, citra manusia tentang alam akan langsung mempengaruhi perbuatan-perbuatan, kepercayaan, tingkah laku sosial dan kehidupan pribadi manusia. Sesungguhya cara kita hidup berkaitan erat dengan cara kita memandang dunia atau pandangan dunia (world view).

Menurut Seyyed Hossein Nasr dalam Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man (London, 1976), krisis ekologi berkorelasi erat dengan krisis spiritual-eksistensial yang menerpa kebanyakan manusia modern. Karena menangnya humanisme-antroposentris yang memutlakkan manusia, maka bumi, alam dan lingkungan diperkosa atas nama hak-hak manusia. Dan bagi manusia, alam telah menjadi layaknya pelacur (prostitute) yang dimanfaatkam tanpa rasa kewajiban dan tanggung jawab terhadapnya.

Tidak sulit untuk membuktikan bahwa pemberhalaan benda dan pengingkaran realitas Ilahi (materialisme), pendewaan manusia (humanisme), kekuasaan (kolonialisme), motif ekonomi (kapitalisme) dan sebagainya merupakan landasan filosofis dan intelektual bagi munculnya kebudayaan modern. Di sisi lain, revolusi industri yang berdampak pada konsumsi dan distribusi adalah landasan historis bagi munculnya perkembangan dan pertumbuhan kebudayaan ini pada masa-masa selanjutnya.

Di samping itu pendekatan kuantitatif (banyak-sedikit, besar-kecil, untung rugi) menggusur pertimbangan kualitatif (benar-salah, baik-buruk) terhadap alam. Eksploitasi manusia terhadap alam mendapat legitimasi ilmiah-filosofis melalui pandangan bahwa manusia adalah pusat dunia (antroposentrisme). Alam dipahami sebagai sesuatu yang tidak punyai nilai intrinsik kecuali nilai yang dilekatkan oleh manusia. Tahap selanjutnya adalah saintisme. Saintisme membuat pandangan-dunia religius tidak relevan secara ilmiah. Agama tidak lebih dari keyakinan orang yang berwatak subjektif, emosional dan tidak ilmiah. Maka, konsep alam sebagai ciptaan Tuhan pun lantas tersapu saintisme.

Namun realitas terkini membalikkan keadaan. Optimisme manusia modern yang mengklaim mampu menundukkan dan menguasai alam, harus bertekuk lutut di hadapan “kemarahan” alam dengan berbagai krisisnya seperti polusi udara, suara, penipisan lapisan ozon dan lain-lain, hal ini juga sekaligus menyentakkan kesadaran manusia bahwa alam mempunyai tatanan tersendiri. Dalam laporan pertamanya Limits to Growth (Batas-batas Pertumbuhan) tahun 1975, Club of Roma mengingatkan malapetaka yang mengancam peradaban manusia jika cara-pandang manusia modern umumnya terhadap ekosistem tidak berubah atau diubah, khususnya terhadap konsep pertumbuhan demi pertumbuhan tanpa memperhatikan ekosistem secara holistik dan integral.

KKAPITALISME
Kapitalisme sendiri merupakan suatu pandangan filosofis merujuk pada prinsip ekonomi bahwa dengan modal sekecil mungkin berusaha untuk meraih keuntungan sebesarnya. Kapitalisme ini berkait erat dengan berlangsungnya proses penghancuran ekonogi dunia. Bahkan banyak filosof menganggap bahwa ”pioner” perusakan dunia adalah system kapitalisme. Namun meski begitu, kapitalisme nampaknya menjadi suatu dogma yang dipegang hampir seluruh orang yang berpegang pada motif ekonomi.

Saat ini tidak ada yang bisa membantah kedigdayaan rezim kapitalisme mendominasi peradaban dunia global. Berakhirnya Perang Dingin menyusul ambruknya komunisme-sosialisme Uni Soviet beserta negara-negara satelitnya sering diinterpretasikan sebagai kemenangan kapitalisme. Hampir dalam setiap sektor kehidupan, logika dan budaya kapitalisme hadir menggerakkan aktivitas. Kritik-kritik yang ditujukan terhadap kapitalisme ternyata justru bermuara kepada makin kokohnya kapitalisme.

PENGERTIAN DAN PERKEMBANGAN KAPITALISME
Kapitalisme adalah sistem perekonomian yang menekankan peran kapital (modal), yakni kekayaan dalam segala jenisnya, termasuk barang-barang yang digunakan dalam produksi barang lainnya.
• Ebenstein menyebut kapitalisme sebagai sistem sosial yang menyeluruh, lebih dari sekedar sistem perekonomian. Ia mengaitkan perkembangan kapitalisme sebagai bagian dari gerakan individualisme.
• Ayn Rand (1970), kapitalisme adalah "a social system based on the recognition of individual rights, including property rights, in which all property is privately owned".
• Heilbroner (1991) menyebut kapitalisme sebagai formasi sosial yang memiliki hakekat tertentu dan logika yang historis-unik. Istilah "formasi sosial" yang diperkenalkan oleh Karl Marx ini juga dipakai oleh Jurgen Habermas.

Kapitalisme ini di desain untuk mendorong ekspansi perdagangan dan ekonomi hingga pasar yang sangat luas. Pengusaha kapitalis berusaha mempelajari pola-pola perdagangan market, termasuk memanipulasi pasar untuk keuntungan mereka. Sistem kapitalisme, mulai berkembang di Inggris pada abad 18 M dan kemudian menyebar luas ke kawasan Eropa Barat laut dan Amerika Utara. Adam Smith, dalam The Wealth of Nations (1776), diakui sebagai tonggak kapitalisme klasik yang mengekspresikan gagasan "laissez faire" dalam ekonomi.

Munculnya kerajaan-kerajaan industri yang cenderung menjadi birokratis dan terjadinya kepemilikan saham oleh segelintir individu yang cinta kapitalis sehingga terjadi monopoli ekonomi. kapitalisme mengacu kepada dua fenomena: (a) terjadinya proses konsentrasi ekonomi seperti korporasi-korporasi nasional dan internasional yang menciptakan struktur pasar oligopolistik, dan (b) intervensi negara dalam pasar.

PRINSIP-PRINSIP DASAR KAPITALISME
System ekonomi kapitalis menghendaki adanya kebebasan individu dimana perekonomian diatur oleh tangan yang tidak nampak (mekanisme pasar) yang disebut Smith sebagai “the invisible hand”. Dalam system ekonomi yang kapitalis ini, motif untuk mendapatkan keuntungan merupakan penggerak yang sangat kuat dalam kegiatan berusaha. Akibat dari kebebasan berusaha individu ini, yang kuat akan menang dan mendesak yang lemah. Individu terlemah akan menjadi korba utama pencemaran lingkungan.

Sebaliknya, ada system perekonomian kapitalis yang menghendaki agar masyarakat lebih dipentingkan dari individu. Peran dan campur tangan pemerintah turut memegang andil. Kebebasan untuk memilih ataupun melakukan kegiatan kepentingan individu dikalahkan demi kepentingan masyarakat. Akibatnya hak asasi manusia diabaikan dan mematikan kreativitas individu.

Proses kelakuan ekonomi kapitalis ini yang banyak menimbulkan kerusakan ekologi karena memandang alam sebagai suatu barang penghasil produk dan jasa (factor produksi). Tidak ada keterikatan organis antara manusia dengan alam. Yang ada adalah ikatan mekanik dimana alam dapat dipecah-pecah menjadi bagian yang lebih kecil dan disusun kembali dengan merangkai bagian kecil tersebut seolah-olah seperti mesin raksasa.

• Kegagalan Mekanisme Pasar
Mekanisme pasar cenderung mengabaikan biaya atau beban yang harus dipikul pihak ketiga sebagai akibat suatu pekerjaan. Contohnya, coca cola kaleng yang dijual di pasaran, belum memasukkan biaya untuk menampung limbah atau daur ulang kaleng tersebut. Paling banter saat ini adalah kaleng tersebut dibuang kemudian diambil oleh dinas kebersihan kota untuk di urug di tempat pembuangan akhir. Akibatnya, lingkungan yang mesti menampung dan lingkungan pula yang menjadi objek pencemaran.
Lingkungan sebagai objek pencemaran mesti menanggung perspektif manusia bahwa alam sebagai suatu mesin mekanik raksasa. Akibatnya akan terjadi kegagalan pasar dalam mencapai efisiensi karena perekonomian terlalu banyak menghasilkan produk minuma tersebut sementara masyarakat (lingkungan) memikul biaya eksternalnya.

• Dampak Kegiatan Produksi
Kegiatan produksi kapitalis dimana terdapat pihak pemegang modal dan keputusan (borjuis) dengan buruh atau pekerja (proletar) bertujuan untuk mendapatkan hasil terbaik dari motif ekonomi dan memaksa timbulnya ketidakadilan social kaum buruh. Biaya produksi tidak dapat ditekan sementara harga jual produk stagnan. Maka satu usaha untuk tetap mendapatkan keuntungan ekonomi adalah dengan menekan penghasilan dari kaum proletar entah dengan topeng apapun namanya.

Dan dengan kondisi hanya mengutamakan keuntungan ekonomi, system kapitalis cenderung mengabaikan hak-hak lingkungan atas produk yang telah diusahakannya. Hanya sedikit sekali perusahaan yang menyediakan dana ataupun asuransi untuk penanggulangan biaya lingkungan atau tidak terlaksananya system pengawasan dan pembuangan yang mengacu pada standar pengelolaan lingkungan.

Masuknya investasi asing ke Indonesia merupakan satu indicator pertumbuhan ekonomi. Dengan membawa capital dan teknologi, sumberdaya alam di negeri ini diperas. Padahal di satu sisi, sebagai pemilik sumberdaya, Indonesia justru kebagian sedikit sisa pengerukan berkepanjangan tersebut. Tidak ada keadilan dan kesesuaian dalam system ini.

Kita bisa melihat bagaimana Lapindo Brantas akibat lumpur volcano, Minamata di Jepang bahan kimia yang menghasilkan limbah methilmercury, ataupun di Chernobyl,. Ibu-ibu hamil terpaksa mewariskan kerusakan dan cacat genetika permanent pada bayi yang dikandungnya. Lahan menjadi tidak subur, pohon-pohon meranggas lalu mati. bahkan air juga tak bisa diminum.

KORPORAT, PIJAKAN KAPITALISME
Runtuhnya Uni Soviet pada awal 1990-an, bukan saja menyebabkan ideologi kapitalisme menang atas komunisme, tetapi lebih dari itu. Kapitalisme juga memperoleh kemenangan atas demokrasi dan ekonomi pasar. Dunia akan diatur secara terpusat oleh mega korporasi global yang ukurannya lebih besar dan telah mencengkeram banyak negara. Kenyataan memang bahwa saat ini, dunia dikuasai oleh kaum spekulator uang dan bisnis berskala global. Kapitalisme telah berkembang menjadi koporatisme yang bukan saja menguasai perekonomian, tapi juga bergeser ke dalam kekuasaan politik.

Ketergantungan Negara terhadap korporasi dibuat dengan mekanisasi merger dan akuisisi perusahaan besar. Akibatnya, tanpa disadari, sistem politik suatu negara semakin tergantung pada korporasi. Para kaki tangan korporasi global dapat mempengaruhi pembuatan kebijakan perdagangan dan investasi internasional baru. Hal itu, berakibat semakin memperkuat hak korporasi, dan sebaliknya akan merugikan hak-hak asasi manusia. Jurang antara kaum yang amat kaya dengan umat manusia yang makin miskin tambah mengangah.

Keuntungan jangka pendek bagi kaum yang kaya merupakan beban yang mesti ditanggung oleh orang miskin untuk tetap melanjutkan hidup dalam sebuah proyek pembangunan, lingkungan telah dikuras sedemikian rupa, sehingga tidak mengandung kehidupan lagi.

Koporasi global untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar lagi telah berkerja sama dengan keuangan global, untuk mengubah kekuasaan ekonomi menjadi kekuasaan politik. Bahkan mereka telah berhasil mengubah kaidah perniagaan dunia melalui perdagangan internasional serta persetujuan investasi. Semua itu, bertujuan untuk memperbesar keuntungannya dengan mengabaikan akibat yang ditimbulkannya yang akan ditanggung oleh masyarakat luas dan carrying capacity.

Di sisi lain, untuk meningkatkan keuntungan mereka, korporasi-korporasi global menciptakan permintaan yang lebih besar terhadap produk atau jasa yang mereka hasilkan. Mereka berupaya menggantikan budaya rakyat yang sebelumnya suka berhemat dengan budaya belanja puas (hedonisme). Karena dengan meningkatnya pembelanjaan dan pengeluaran masyarakat, semakin besar pula keuntungan yang akan mereka dapatkan.

GLOBALISASI DAN KONSEP KAPITALISME
Globalisasi adalah proyek yang tidak dapat dihindarkan dalam hubungan antarnegara. Globalisasi multisektor sebagai dua sisi mata uang yang menghadirkan kebaikan dan kerugian. Banyak konsep diciptakan negara maju baik di bidang ekonomi, politik, demokrasi, perlindungan HAM, pengelolaan Iingkungan hidup sampai konsep good governance, bertujuan menciptakan demokratisasi, kelestarian lingkungan, perlindungan HAM, maupun terciptanya pemerintahan yang bersih dan berwibawa.

Realitasnya antara konsep dan implementasinya sering terjadi kesenjangan. Negara maju bermodal teknologi dan akumulasi kapital justru sering memberlakukan standar ganda, berlaku tidak adil dan menggunakan isu tersebut untuk menekan dan memperlemah daya saing negara berkembang. Tujuannya rnenguasai dan menciptakan ketergantungan.

Konsep perdagangan bebas (free trade) misalnya, dengan jiwanya yang liberal ibarat mempertemukan dalam suatu pertarungan antara gajah dengan kambing. Dari segi SDM, penguasaan teknologi, kecukupan modal, maupun kualitas produk, negara berkembang jauh tertinggal dengan negara maju. Dari sudut politik dagang konsep pasar bebas sebenarnya adalah upaya negara maju untuk memperlemah daya saing negara berkembang.
Globalisasi mengakibatkan hilangnya identitas kultur nasional, sedangkan kemampuan untuk bertahan tergantung pada akses pada kekuatan superpower, eksploitasi terhadap negara kurang berkembang makin menggila.

THE POWER INSIDE KAPITALISME
Unsur-unsur apa yang dikandung kapitalisme sehingga ia saat ini tetap tangguh? Ada beberapa kekuatan yang memungkinkan kapitalisme masih bertahan hingga kini:

Pertama, daya adaptasi dan transformasi tinggi sehingga mampu menyerap dan memodifikasi kritik untuk memperkuat eksistensinya. Karl Marx memprediksikan kaum buruh akan mengadakan aksi untuk menentang eksistensi kaum borjuis, tetapi hal ini ternyata gagal karena taktik kaum borjuis dengan konsep “welfare state”.

Kedua, pola penyebaran di kapitalisme ternyata sudah begitu kuat menancap di peradaban dunia ini. Kapitalisme sekarang telah menjadi mahzab atau paradigma utama dalam menggapai motif ekonomi.

• Kelemahan Kapitalisme
Pertama, pandangan epistemologinya yang positivistik mekanistik. Positivisme yang memisahkan fakta dan nilai, bahkan hanya terpaku pada apa yang disebut fenomena fakta dan mengabaikan nilai, terbukti tidak mampu untuk menjalankan aktivitas yang mengedepankan pengelolaan sumberdaya alam sebagai factor produksi.

Kedua, keserakahan mengakumulasi kapital berakibat pada eksploitasi yang melampau batas terhadap alam dan sesama manusia, yang pada gilirannya masing-masing menimbulkan krisis ekonologis dan dehumanisasi.

Ketiga, masalah yang paling serius yang dihadapi kapitalisme demokratis adalah pengikisan basis moral. Dan ini ternyata tidak hanya terjadi di Barat, di Indonesia dan Negara timur lainnya juga mendapati hal yang serupa.

Keempat, problema kapitalis memacu timbulnya krisis social budaya, krisis makna dan puncaknya adalah timbulnya krisis motivasi.