

Saya benar benar ngefans sama grup yang satu ini. Meski tergolong pengusung usik cadas alias metal, tapi grup ini mampu mneonjolkan kesan elegan. Saya juga suka mendengarkan beberapa punggawa metal (mungkin lebih enak disebut the mettal legend) seperti Mettalica, Hellowen, Black Sabath, Iron Maiden, Judas Priest, Slayer, Angra, Hammerfall, Napalm Death sampai Dave Mustaine si Megadeth. Bahkan dulu ketika SMA saya hobbi menyetel Black Mettal atau Grind Core hingga Krisna Saddrach dan Tengkorak sempat menjadi idola saya.
Ketika DT hanya bisa manggung di Singapura kemarin, saya hanya bisa pasrah. Yang namanya ngefans, pastilah hasrat menikmati konser DT jadi impian. Tapi sayang, Singapura masih terlalu mahal untuk saya karena termasuk biaya nginap. Selain itu, masih ada tugas kampus dan kantor yang masuk dead line. Jadilah saya hanya berharap ada yang mengupload live DT di Singapura ke internet jadi busa diunduh hehehe.
Cuma peristiwa kemarin di Bandung cukup membuat saya terhenyak, ada 10 remaja tewas saat menonton launching album black metal lokal di Braga. Masalahnya hampir sama dengan koser yang lain. Kapasitas gedung dengan penonton tidka sesuai. Gedung lama yang hanya mampu menampung 800 orang dijejali hingga 1500 tiket yang terjual habis ditambah penonton tanpa tiket yang memaksa meringsek masuk.
Dan yang memperparah lagi, panitia ternyata memberikan minuman alkohol pada penonton. Praktis konser jadi berjalan rusuh dan akibatnya karena minimnya pengamanan dan kendali khamar yang tinggi, banyak remaja tewas terinjak-injak. Novi bahkan salah satu remaji (remaja putri) yang baru duduk di kelas 3 SMP yang adi korban.
Tragis sekali, karena mereka masih muda tetapi jurtsu mati karena idealisma yang tak berlasan. Kenapa saya sebut tak beralasan, bukan menghina atau melecehkan, dengan segala hormat saya sangat mengajui musik ini sebagai influence besar saya. Tetapi individu yang menjadikan musik ini sebagai taklid (mengkultuskan) rasanya amat tidak bijak. Metal adalah life style tetapi tidak seharusnya menjadi ideologi apalagi isme isme yang mengarah ke jalur sesat.
Sekarang banyak orang yang menyesal telah mengadakan event itu. Padahal metal seperti halnya rock, jazz, blues, bosas, country ataupun musik lainnya adalah bahasa universal yang bisa diikmati dan menajdi life style elegan. Rock dan metal hampir selalu indentik dengan kekerasan, minuman, sexsualitas dan narkoba karena memang image yang dibawa dari luar seperti itu. Begitu pula dengan misi anti kemapanan yang dibawa oleh punggawa punk, Sid Vicious, Sex Pistol, The Class dan lainnya.
Layakkah kita mesti mati jika kita memanggul idelisme metal yang keliru seperti kemarin? Lalu bagaimana dengan 200 band Bandung yang mengusung aliran ini? Bagiamana komunitas underground yang sudah ada?
Saya sendiri merasa agak sulit dengan kondisi ini. Bandung dikenal sebagai kota yang agamis, apalagi “urang sunda” adalah mayoritas suku yang mengakui Isalm sebagai agaa mereka dan jumlahnya terbesar di Indonesia. Lalu bagaimana peran agama terhadap pemain band underground ini? Apakah agama hanya menjadi simbol sementara isme sesat dan anti tuhan yang awalnya dibawa oleh aliran black metal ini telah banyak merasuk?
Itulah sebabnya mungkin kedewasaan waktu dan kemapanan berpikir bisa menjadi penyelamat kita. Dream Theater mungkin menjadi grup metal unik yang bisa dilihat dari banyak sisi. Mereka mengutamakan skill dan tehnik dalam bermusik, kemudian harmonisasi dan musikalisasi. Tapi selain itu dari gaya hidup mereka jauh dari sifat brutal yang banyak ditampilkan band metal lain (mohon dikoreksi salah) dan lirik mereka tidak melulu bicara tentnag kekerasa, ada pula tentang perjuangan hidup melawan penyakit dan kelelahan mereka saat bermusik muncul. Mereka kebanyakan lebih konsentrasi ke klinik musik dan ke musik musik lagi. Lagu mereka mungkin sulit dimengerti karena sifat progesifnya, tetapi buat penggemar DT dan para musisi, musik mereka luar biasa bagus. Simaklah Metropolis, Ytse Jam, Stream of Consciousness’, Pull Me Under, Spirit Carries On, Take away My pain dan lagu-lagu lain.
Saya hanya berharap peristiwa kemarin bisa menjadi pelajaran berharga buat kita semua. Musik itu bahasa universal yang bisa menyatukan banyak golongan, jadi hargai musik itu seperti kita menghargai diri kita sendiri.
Ketika DT hanya bisa manggung di Singapura kemarin, saya hanya bisa pasrah. Yang namanya ngefans, pastilah hasrat menikmati konser DT jadi impian. Tapi sayang, Singapura masih terlalu mahal untuk saya karena termasuk biaya nginap. Selain itu, masih ada tugas kampus dan kantor yang masuk dead line. Jadilah saya hanya berharap ada yang mengupload live DT di Singapura ke internet jadi busa diunduh hehehe.
Cuma peristiwa kemarin di Bandung cukup membuat saya terhenyak, ada 10 remaja tewas saat menonton launching album black metal lokal di Braga. Masalahnya hampir sama dengan koser yang lain. Kapasitas gedung dengan penonton tidka sesuai. Gedung lama yang hanya mampu menampung 800 orang dijejali hingga 1500 tiket yang terjual habis ditambah penonton tanpa tiket yang memaksa meringsek masuk.
Dan yang memperparah lagi, panitia ternyata memberikan minuman alkohol pada penonton. Praktis konser jadi berjalan rusuh dan akibatnya karena minimnya pengamanan dan kendali khamar yang tinggi, banyak remaja tewas terinjak-injak. Novi bahkan salah satu remaji (remaja putri) yang baru duduk di kelas 3 SMP yang adi korban.
Tragis sekali, karena mereka masih muda tetapi jurtsu mati karena idealisma yang tak berlasan. Kenapa saya sebut tak beralasan, bukan menghina atau melecehkan, dengan segala hormat saya sangat mengajui musik ini sebagai influence besar saya. Tetapi individu yang menjadikan musik ini sebagai taklid (mengkultuskan) rasanya amat tidak bijak. Metal adalah life style tetapi tidak seharusnya menjadi ideologi apalagi isme isme yang mengarah ke jalur sesat.
Sekarang banyak orang yang menyesal telah mengadakan event itu. Padahal metal seperti halnya rock, jazz, blues, bosas, country ataupun musik lainnya adalah bahasa universal yang bisa diikmati dan menajdi life style elegan. Rock dan metal hampir selalu indentik dengan kekerasan, minuman, sexsualitas dan narkoba karena memang image yang dibawa dari luar seperti itu. Begitu pula dengan misi anti kemapanan yang dibawa oleh punggawa punk, Sid Vicious, Sex Pistol, The Class dan lainnya.
Layakkah kita mesti mati jika kita memanggul idelisme metal yang keliru seperti kemarin? Lalu bagaimana dengan 200 band Bandung yang mengusung aliran ini? Bagiamana komunitas underground yang sudah ada?
Saya sendiri merasa agak sulit dengan kondisi ini. Bandung dikenal sebagai kota yang agamis, apalagi “urang sunda” adalah mayoritas suku yang mengakui Isalm sebagai agaa mereka dan jumlahnya terbesar di Indonesia. Lalu bagaimana peran agama terhadap pemain band underground ini? Apakah agama hanya menjadi simbol sementara isme sesat dan anti tuhan yang awalnya dibawa oleh aliran black metal ini telah banyak merasuk?
Itulah sebabnya mungkin kedewasaan waktu dan kemapanan berpikir bisa menjadi penyelamat kita. Dream Theater mungkin menjadi grup metal unik yang bisa dilihat dari banyak sisi. Mereka mengutamakan skill dan tehnik dalam bermusik, kemudian harmonisasi dan musikalisasi. Tapi selain itu dari gaya hidup mereka jauh dari sifat brutal yang banyak ditampilkan band metal lain (mohon dikoreksi salah) dan lirik mereka tidak melulu bicara tentnag kekerasa, ada pula tentang perjuangan hidup melawan penyakit dan kelelahan mereka saat bermusik muncul. Mereka kebanyakan lebih konsentrasi ke klinik musik dan ke musik musik lagi. Lagu mereka mungkin sulit dimengerti karena sifat progesifnya, tetapi buat penggemar DT dan para musisi, musik mereka luar biasa bagus. Simaklah Metropolis, Ytse Jam, Stream of Consciousness’, Pull Me Under, Spirit Carries On, Take away My pain dan lagu-lagu lain.
Saya hanya berharap peristiwa kemarin bisa menjadi pelajaran berharga buat kita semua. Musik itu bahasa universal yang bisa menyatukan banyak golongan, jadi hargai musik itu seperti kita menghargai diri kita sendiri.